English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Tokoh NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Januari 2011

Abdul Wahab Hasbullah

Posted by Pelajar Pagu 10:30 PM, under | No comments

Abdul Wahab Hasbullah (lahir di Jombang, Maret 1888, meninggal 29 Desember 1971) adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, da’wah beliau dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

Keluarga

Ayahanda KH Abdul Wahab Hasbullah adalah Kyai Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Fatimah.

Pendidikan

Beliau juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.

Rabu, 19 Januari 2011

Ulama Sejarawan

Posted by Pelajar Pagu 7:59 PM, under | No comments

Banyak ulama besar yang berasal dari kalangan rakyat jelata, di antaranya adalah Kiai Siafuddin Zuhri, anak seorang santri kampung, kemudian belajar agama di madrasah dan selanjutnya belajar di masyarakat selama revolusi. Namun demikian kontribusinya NU sangat besar, tidak hanya secara material, bagaimana dia menyumbangkan hektaran tanah pada organisasi ini, juga gigih mengembangkan NU di kalangan pedesaan dan di lingkungan kaum pergerakan.

Pemimpin yang Konsisten

Posted by Pelajar Pagu 7:51 PM, under | No comments

Ketika memberikan sambutan pada Muktamar NU ke 29 di Cipasung 1994 Kiai Munasir mengatakan bahwa dirinya betul-betul orang yang tak tahu diri, sebab di usia yang ke 70 tahun  masih berambisi menjadi Ketua panitia Muktamar, yang semestinya itu bagian anak muda. Karena ambisi saya itu maka proses regenerasi tersumbat. Padahal sudah selayaknya orang setua saya ini mengundurkan diri dari jabatan apapun dan menyerahkan pada yang muda karena lebih enerjik  dan lebih berpengalaman, sementara saya ini sudah ketinggalan jaman.
Sambutan Ketua panitia itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin, sebab hadirin tahu bahwa Kiai Munasir sedang menyindir Presiden Soeharto yang hadir dalam Muktamar itu. Yang dengan kekuasaannya yang tak terbatas berusaha mengintervensi NU  dengan mendongkel kepemimpinan Abdurrahman Wahid, serta menawarkan tokoh yang dijadikan bonekanya. Tentu saja prakarsa itu ditentang keras oleh mayoritas NU, bukan karena Gus Durnya tetapi demi kemandiriannya sebagaimana diamanatkan oleh khittah.

Pendiri NU Pertama di Bali

Posted by Pelajar Pagu 7:41 PM, under | No comments

Lahir pada tahun 1899 dari pasangan Kyai Dahlan Falak dan Nyai Ummu Kulsum Semarang dengan nama Ahmad. Semasa nyantri di Jamsaren, Kyai Idris Jamsaren memberikan julukan "al-Hadi" kepadanya sehingga ia pun dikenal dengan nama Ahmad al-Hadi. Disamping belajar kepada Kyai Idris, Ahmad muda juga pernah menuntut ilmu kepada sejumlah ulama besar tanah Jawa seperti Kyai Umar Sarang, Kyai Abdullah Termas, Kyai Khalil Bangkalan, Tuan Syeikh Jembrana [Bali] dan Kyai Hasyim Asy`ari. Ahmad al-Hadi juga pernah beberapa tahun menuntut ilmu di kota Mekkah sebelum akhirnya pulang ke Indonesia setelah Hijaz mengalami kekacauan besar akibat meletusnya revolusi Wahabi.
 

Sabtu, 15 Januari 2011

KH. Ruhiat Cipasung

Posted by Pelajar Pagu 11:26 AM, under | No comments

KH. Ruhiat adalah tokoh terkenal pada zamannya karena dialah pendiri pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Namun generasi saat ini kurang lagi mengenal ketokohannya. Bahkan puteranya yaitu KH Iyas Ruhiat lebih dikenal apalagi setelah menduduki jabatan tertinggi di NU sebagai Rais Aam. Hal itu bisa dimengerti, kiai sepuh tersebut telah meninggal 29 tahun lalu. Tanggal 17 Dzulhijjah 1426 H yang bertepatan dengan 17 Januari 2006, adalah haul (peringatan hari wafat) ke-29 KH. Ruhiat.
Pesantren Cipasung saat ini merupakan pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya mengembangkan pesantren yang responsif pada perkembangan dunia pendidikan, pada masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

KH. Mahfudz Anwar

Posted by Pelajar Pagu 11:21 AM, under | No comments


KH. Mahfudz Anwar adalah salah seorang ulama kharismatik yang  memiliki kualifikasi keilmuan yang sangat mumpuni. Tiga cabang ilmu dasar dikuasai dengan sangat mendalam yakni fikih, tafsir dan ilmu falak (astronomi). Selain ketiga bidang itu, KH. Mahfudz Anwar juga dikenal sebagai seorang Muhaddits [ahli hadits], Sufi [ahli tasawuf], dan ahlul lughah [ahli bahasa/ etimolog].  Kemampuan yang dimilikinya itu  tidak lepas dari latar belakang keluarga yang membimbingnya, lembaga pendidikan yang menempanya, dan perjuangan sosial kemasyarakatan yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Tetapi diantara sekian banyak ilmu yang dikuasai ia lebih dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak, yang ditekuni hingga akhir hayatnya.
Masa Pembentukan
Kiai yang hafal al Quran itu dilahirkan di Paculgowang Jombang  12 April 1912 M   dari pasangan  Kiai Anwar Alwi dan Nyai Khadijah, ia anak keenam dari 12 orang bersaudara. Ayahnya adalah pengasuh Pesantren Pacul Gowang, generasi kedua. KH. Anwar Ali satu periode dengan KH. Moh. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Mereka sama-sama murid KH. Kholil Bangkalan Madura. Selain KH. Hasyim, KH. Abdul Karim [pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri] dan KH. Ma’ruf [Kedunglo Kediri] juga teman karibnya. Kiai Anwar Alwi juga murid KH. Mahfudz Termas Pacitan yang berdomisili di Makkah ketika studi di sana.
Melihat latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat wajar apabila KH. Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan agama yang tinggi Saat itu Pesantren Tebuireng telah muncul sebagai pesantren terkenal kualitas keilmuannya, kenyataan itu membuat Kiai Anwar Ali  memondokkan anaknya ke sana. Jarak antara Tebuireng dengan Paculgowang hanya  sekitar 3 km. Maka dikirimlah Mahfudz kecil  ke Pondok Pesantren Tebuireng untuk menimba ilmu dari Kiai Hasyim. 
 
Masa pendidikan Mahfudz banyak dihabiskan di Tebuireng, ditempuh mulai dari kelas shifir awal, tsani, tsalis, (kelas 1 sampai kelas VI) Ibtidaiyah.  Karena kecerdasannya yang tinggi maka ketika mencapai kelas IV ia sudah ditugasi untuk mengajar adik kelasnya, padahal umumnya tidak jauh beda atau lebih tua darinya. Ini menunjukkan bahwa Mahfudz kecil memang sudah kelihatan kecerdasannya. Baru setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru resmi di Pesantren Tebuireng. banyak murid ustadz Mahfudz yang nantinya menjadi orang besar, pemimpin masyarakat,  misalnya KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Tholhah Hasan bahkan Kiai As’ad Syamsul Arifin sempat berguru padanya.

Selain kepada Kiai Hasyim, Mahfudz  juga belajar kepada  Kiai Ma’shum Ali, seorang ulama besar, ahli falaq  dan pencetus nazam Ilmu Sharaf  yang sangat heboh di Timur Tengah.  Kiai Ma’shum Ali adalah Direktur Madrasah Tebuireng. Posisi penting itu ia duduki baik karena keilmuannya juga karena menantu KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya Hj. Khoiriyah Hasyim. Pada saat yang sama ia juga mengasuh pesantren sendiri di Seblak, tidak jauh dari situ. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu falaq, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Hal itu bisa dipahami mengingat sejak usia belasan tahun, Mahfudz  sudah belajar ilmu itu. Karena itu meski usianya belum genap 20 tahun, kata Kiai Sahal Mahfud, ia  sudah disegani oleh santri Tebuireng.
Sebagai santri yang menonjol kepandaiannya, akhirnya Mahfudz diambil menantu oleh Kiai Maksum, karena itu ketika Kiai Maksum meninggal  pada usia yang sangat muda, 33 tahun tepat pada tahun 1933, maka kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada ustadz Mahfudz. Kesibukan mengurusi pesantren di Seblak tidak membuat Kiai Mahfudz melupakan Tebuireng ia tetap mengajar di Tebuireng.  Walaupun sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan sudah menguasai sederet ilmu dengan mendalam, namun semangat belajar Kiai Mahfudz tidak pernah padam. Diantara sekian ilmu yang terus giat dipelajari adalah ilmu falaq sayang guru di bidang itu Kiai Ma’shum Ali keburu meninggal dunia, karena itu  langsung belajar falaq lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang menjadi kepala pondok Seblak, yang masih terbilang cucu Kiai Rahmat Kudus.  Karena minatnya sangat besar maka ia belajar dengan tekun dan teliti, sehingga bisa menyerap ilmu gurunya itu dengan cepat.
 
Ilmu Falak Sebagai pilihan.

Sebagai seorang ulama yang mumpuni, Kiai Mahfud menguasai berbagai disiplin keilmuan, antara lain fikih, tafsir dan falak. Dari sekian itu semua dikuasi, tetapi paling ditekuni adalah ilmu falak. Setelah betul-betul menguasai falaq, maka diskusi dan perdebatan dengan mitra belajarnya menjadi semakin seru. Mereka terus mengasah ketajaman analisis masing-masing melalui forum musyawarah sebagai ajang berdebat untuk memperkokoh argumen dan menghindupkan suasana kailmuan.


K.H. Hasyim Asy'ari

Posted by Pelajar Pagu 11:17 AM, under | No comments

Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M di Desa Gedang, satu kilometer sebelah utara Kota Jombang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari berasal dari Demak, Jawa Tengah. Ibunya bernama Halimah, puteri Kiai Utsman, pendiri Pesantren Gedang.


Dilihat dari garis keturunan itu, beliau termasuk putera seorang pemimpin agama yang berkedudukan baik dan mulia. KHM. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI (Lembupeteng). Garis keturunan ini bila ditelusuri lewat ibundanya sebagai berikut: Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambu bin Pangeran Nawa bin Joko Tingkir alias Mas Karebet bin Prabu Brawijaya VI.

Tags

Blog Archive

Arsip Blog